Ahmad Subair (Mahasiswa Program Doktoral Sejarah UI)
Oleh: Ahmad Subair (Mahasiswa Program Doktoral Sejarah UI)
KabarMakassar.com — Hari ini cuaca cukup cerah untuk wilayah Depok dan sekitarnya. Meskipun masih terasa sisa debu vulkanik akibat dari erupsi gunung Anak Krakatau, namun antusias diskusi hari ini di kelas cukup terasa keseruannya.
Ada poin awal yang menarik perhatian saya dipertemuan kedua mata kuliah saya hari ini. Tentang interkoneksitas dan transkoneksitas dalam pendekkan kajian ilmu humaniora. Mendadak kelas tiba tiba mulai riuh dan akhirnya muncul beragam pertanyaan lintas kajian. Dimulai dari isu cultural study yang rupanya dapat digunakan untuk mendekonstruksi masalah apapun di masyarakat yang dianggap mapan. Misalkan saja, mengapa terdapat dualisme isu kajian di Fakultas Ilmu Budaya dengan fakultas lain seperti di FISIP.
Diskusi semakin menghangat, dan kemudian berhasil memisahkan dualisme isu tersebut diatas menjadi pendekatan soft disciplinary untuk kajian informasi yang bernaung dalam fakultas ilmu budaya.
Dalam perjalanan diskusi tersebut, ternyata dalam kajian sejarah diungkapkan ,bahwa filosofi ilmu pengetahuan berkembang beririsan dengan berkembangnya kajian sastra oleh Rolland Barthes (1964), dalam konsep pertanda (signifier) dan Penanda (signified). Dimana perkembangan keilmuan tersebut dapat mengisi kajian sejarah dan dapat memperkaya cara padang (perspektif) suatu kajian, termasuk melihat sebuah peristiwa yang tidak hanya sebagai event, namun juga sebagai struktur masyarakat terhubung satu sama lainnya serta melampaui batas batas konvensional.
Ada hal menarik seiring berjalannya diskusi ditengah cuaca yang masih terasa sisa debu vulkaniknya. Saya tiba-tiba teringat pada saat riset magister saya sepuluh tahun yang lalu, dimana saya mengangkat fokus utama dalam kajian sejarah pasca kemerdekaan dengan isu pada sejarah pemberontakan.
Meskipun pada akhirnya pembahasan melompat pada pendekatan positivisme (cenderung kuantitatif) dan pendekatan konstruktivisme (cenderung kualitatif). Namun keduanya masih tetap dipertemukan ketika dia diteliti dan ditulis oleh seorang sejarawan.
Mungkin kita masih ingat bahwa pendekatan positivisme sangat krusial jika hanya menyandarkan pada perspektif ini saja. Mengapa demikian? Karena sebuah peristiwa pemberontakan akan terasa asing apabila hanya menyajikan data kuantitatif seperti, jumlah korban, jumlah senjata, dan lama perang. Namun tetap saja pemberontakan merupakan sebuah peristiwa manusiawi yang sarat dengan emosi, narasi, serta konstruksi sosial.
Di tengah perkuliahan, saya mencatat satu poin krusial: bahwa perspektif konstruktivisme itu rupanya dapat digunakan untuk memahami bagaimana aktor pemberontakan menyusun ideologi, merajut rasa ketidakadilan, dan mengonstruksi identitas perlawanan.
Kajian linguistik juga dapat dihadirkan saat meneliti pilihan bahasa, akronim, dan retorika politik yang berakar pada budaya lokal. Melalui narasi ketertindasan ini, seorang peneliti seyogyanya dapat membongkar struktur perlawanan lokal yang selama ini sering terpinggirkan dari historiografi Indonesia.
Pada bagian terakhir sesi diskusi hari ini, tiba-tiba kami diminta untuk mengkaji aktivitas tren masyarakat perkotaan bernama Car Free Day, dengan menggunakan perspektif kajian dari basic keilmuan masing-masing peserta diskusi. Sebab jika boleh jujur, secara pribadi saya tidak punya pengalaman dan kesan lebih dalam kehadiran di aktivitas Car free day.
Dalam ingatan saya, baru sekali seumur hidup ikut menikmati suasananya. Selebihnya, suasana yang hadir diujung diskusi hari ini, justru suasana hati yang sedang resah dan gelisah oleh karena jauh dari tempat diskusi saya, orang-orang dirumah tempat keluarga saya bermukim bernama kota Makassar, rupanya sedang mengalami situasi pemadaman listrik bergilir, gas melon tiga kilogram mendadak menjadi barang langka, BBM ikut-ikutan berstatus langka, air dari perusahaan penanggungjawab untuk mengalirkan ke masyarakat juga sedang mengalami kendala, sehingga tidak lancar. Padahal tagihannya lancar, selancar kami membayarnya.
Dan makin ironisnya, saat orang-orang kota sibuk merajut identitas kebersamaan lewat olahraga pagi di Car Free Day, keluarga saya di Makassar justru sedang merajut ideologi bertahan versi paling nyata yakni bertahan hidup dalam kelangkaan listrik, air, gas, dan BBM.
Diskusi pun akhirnya ditutup. Sambil meninggalkan ruangan kelas, dengan memegang kepala yang tiba-tiba pusing dan penglihatan saya yang berkunang-kunang. Mendadak dalam hati kecil saya ikut berbisik:
“Maka penderitaan apalagi yang kamu dustakan ! ”


















































