Obrolan Asap

3 days ago 8

TARUNA - hayati

“Uhuk huk huk!”

“Pergilah ke puskesmas, Bang!” saran itu lebih berbau sapaan ketimbang nasihat.

Bujang yang baru saja masuk ke warung kopi, segera menuang air putih di teko ke gelasnya, lantas meneguk hingga tuntas guna membasahi kerongkongan yang kian seret dihantam batuk.

Zainal menggeser duduknya, memberi tempat pada Bujang.

“Turun saja hujan agak dua jam, sembuhlah batukku ini,” keluh Bujang.

“Oh, alergi asap rupanya?” Yuk Mala, pemilik warkop, nimbrung.

“Memangnya ada orang yang tak alergi asap begini?”

Zainal tertawa, “Kan kita tiap tahun kena asap, Bang. Sudah terbiasalah!”

“Lagian sudah tahu tak kuat asap, masih juga keluyuran,” timpal Yuk Mala.

“Pusing aku di rumah. Anak-anak sekolah daring gara-gara asap ini!”

Yang disebut anak-anak oleh Bujang, sebenarnya adalah keponakannya yang berjumlah lima orang. Ada dua saudara yang sudah menikah tetapi belum keluar dari rumah orang tuanya. Bujang sendiri belum menikah di usianya yang nyaris kepala tiga.

“Ini belum apa-apa dibanding dua ribu sembilan belas. Kampungku di Kumpeh sampai merah. Enak saja netizen bilang hoaks, gara-gara warnanya beda. Ada yang merah ada yang oren. Ya jelas beda, orang hape yang dipakai merekam beda-beda.” Zainal mengenang-ngenang kejadian 5 tahun lampau.

“Dua ribu lima belas takada lawan, Nal.” Yuk Mala yang sibuk dengan adonan gorengan, tak mau kalah. “Air mati, listrik mati. Sampai-sampai dikira mau kiamat!”

“Apa ya hubungan kabut asap dengan listrik?” Zainal serius berpikir.

“Yang kudengar, listrik kita waktu itu pakai tenaga air. Jadi karena kemarau, takada tenaganyalah untuk menyalakan listrik. Sumur di rumahku, seumur-umur belum pernah kering, di dua ribu lima belas itulah dia kering kerontang.” Bujang menggeleng berulang mengingat masa kelam yang juga ia alami.

“Kau belum di sini kan waktu itu?” tebak Yuk Mala menuding Zainal.

“Masih merantau aku waktu itu. Kalau bukan karena menikah, tak mau aku pulang.”

“Sebelum merantau kau tahu kan kalau di Kotabaru ada ‘jam gadang’? Dua ribu lima belas, berfoto kau di depan tugu itu, tak muncul jam gadang di kamera!” entah benar-benar hendak menceritakan tragedi kabut asap 8 tahun lalu, atau Bujang sengaja mengalihkan pembicaraan dari topik nikah.

“Tugu Keris itu, ya,” Zainal mengonfirmasi.

“Kalian belum ada yang lahir tahun sembilan tujuh?” Tahu-tahu Datuk Leman sudah ada bersama mereka. Ia masuk dari pintu belakang, duduk di bangku lain setelah mencomot sepotong tahu bunting[1].

“Baru tiga tahun umurku, Tuk!” jawab Bujang.

“Aku belum lahir,” kata Zainal.

“Kau, Mala?” Datuk Leman takpuas jika belum semua menjawab.

“Sudah sekolah aku, Tuk. Tapi tak pula ingat.”

“Tahun sembilan tujuh, tanganmu sendiri pun bisa tak nampak!”

Ketiganya tersentak kaget. Yuk Mala bahkan sampai berhenti sesaat dari kegiatan menggoreng. Bola matanya mengarah ke atas, tanda pikirannya sedang menggali-gali ingatan yang mungkin terlewat.

“Bukan hanya Singapura Malaysia, Australia pun kena asap kita,” tambah Datuk Leman. “Pesawat saja jatuh!”

Melihat tiga orang muda itu tampak antusias, Datuk Leman tak menyia-nyiakan kesempatan. Bercerita adalah favorit orang tua mana pun, meski kisahnya itu-itu juga. Maka panjanglah ia menuturkan pengalaman hidup dalam asap berbulan-bulan di tahun 1997. Bukan hanya pada wilayah Provinsi Jambi yang terbakar, tempat ia dan para pendengarnya tinggal, Datuk Leman bahkan memulakan cerita sejak ia dilahirkan!

Ada baiknya bagi Yuk Mala, dengan begitu hidangan berbayar di meja warungnya sedikit demi sedikit berkurang karena keasyikan tiga pengunjung warkop. Dan ketika kisahnya sudah sampai di ujung sementara Datuk Leman masih mengulang-ulang bagian tertentu, Bujang segera menghentikannya.

“Berarti kalau dibiarkan, sampai dua ribu empat lima pun kita akan kena asap terus!” Bujang berseru diselingi batuk berulang.

Yang lain mengangguk mengiyakan.

Beberapa pembeli berdatangan. Ada yang segera pergi setelah kebutuhannya terpenuhi, ada pula yang ikut nimbrung dalam obrolan asap di warung itu.

“Ayo bertindak, Jang! Kalau tidak nanti anakmu batuk-batuk juga!” seru salah seorang pengunjung warkop yang lebih terdengar seperti ejekan. Sebab ia tahu Bujang belum menikah, dan setelah berkata demikian ia justru pergi sambil tertawa-tawa.

“Memangnya kita bisa apa? Pemerintah kan sudah berusaha memadamkan api, menangkap yang membakar. Kita di kota sini mana ketemu orang buka lahan.” Zainal tampak berpikir keras.

“Kita panggil pawang hujan!” Datuk Leman memberi saran sungguh-sungguh.

“Pawang hujan kan untuk mengusir hujan, Tuk. Makinlah parah kebakarannya!” Yuk Mala yang sekarang sibuk melayani pembeli, masih sempat menyimak obrolan.

Zainal dan Bujang, juga para pembeli yang ada di warkop tertawa.

“Salah kalian …,” kata Datuk Leman. “Pawang hujan itu menguasai hujan. Bisa mengusir bisa pula memanggil.”

“Ini dua ribu dua tiga, Tuk. Tak zaman lagilah urusan dengan dukun!” Zainal menggeleng berulang.

“Memangnya pawang hujan itu dukun?” Bujang menatap Zainal, betul-betul bertanya.

“Ya iyalah.”

“Kalau pawang ular?”

“Mana kutahu!”

“Dukun bayi saja kata temanku bukan dukun. Istilah saja itu.”

“Kita bisa ajukan ke lurah, biar aku yang bilang,” ucapan Datuk Leman menutup diskusi Zainal dan Bujang.

“Ketawa orang kelurahan, Tuk, ada proposal masuk isinya pengadaan pawang hujan.” Terkekeh Zainal mendengar ide Datuk Leman.

BRAK! Tak dinyana Datuk Leman menggebrak meja, sakit hatinya mendengar kekehan Zainal.

“Aku buktikan kalau ini bukan sekadar omong. Sekarang juga aku ke kantor lurah, tak usah pakai proposal. Kalau pawang yang aku datangkan berhasil bawa hujan ke sini, kau harus cium kaki orang tua ini!” Telunjuk Datuk Leman tepat mengarah ke hidung Zainal.

Lalu telunjuk itu beralih ke Bujang. “Kau! Kalau tak segera dapat hujan, biar kau berobat sampai Singapur, tak akan sembuh batukmu. Bisa-bisa kau kena kanker, setiap tahun menelan asap!”

Bujang tercekat mendengar ucapan Datuk Leman yang lebih mirip kutukan.

Setelah puas memelototi orang-orang di sekitarnya, Datuk Leman keluar dari warung Yuk Mala. Sesuai ucapannya, menuju kelurahan.

Untuk sesaat warkop Yuk Mala hening. Orang-orang terdiam, kemudian ditutup dengan ucapan riuh rendah sambil membubarkan diri.

“Begitulah orang kalau sudah tua, gampang tersinggung.”

“Biarkan saja dia berikhtiar, kita lihat apa dia bisa minta pawang ke lurah.”

“Ingat, dia orang yang dituakan di sini.”

“Setidaknya ada tiga orang keluarganya yang jadi pegawai di kelurahan ….”

Sementara Yuk Mala ngedumel sambil membersihkan warungnya. Datuk Leman, saking emosinya, lupa membayar yang ia makan dan minum. Sementara pemilik warung terlalu sungkan untuk mengingatkan.

Zainal lebih takenak hati, karena merasa kejadian itu disebabkan ketidaksopanannya menanggapi ide Datuk Leman.

Lain lagi dengan Bujang. Setelah obrolan itu jauh usai, ia masih memikirkan ucapan Datuk Leman. Kata kanker terngiang-ngiang di benaknya.

Satu pekan berlalu, takada lagi yang membahas perkara asap, pawang, dan Datuk Leman. Di suatu hari yang sejak pagi mendung, hujan turun deras di ujung siangnya. Orang-orang bersuka cita, terutama Bujang—meski batuknya tak serta merta sirna.

Menjelang magrib, hujan berhenti. Seolah menyilakan orang-orang untuk mendatangi masjid guna mendirikan salat Magrib berjemaah. Usai salat, bertemulah Zainal dengan Datuk Leman. Ia menyalami laki-laki 70 tahunan itu, tetapi tanpa ucapan maaf apalagi menanyakan perihal lurah dan pawang. Memang begitulah adanya, setelah doa ditutup seusai salat, para jemaah bersalaman.

Datuk Leman pun tak mengucapkan apa-apa. Dia menyambut salam Zainal seperti biasa, tidak tersenyum, tak pula cemberut.

Dalam perjalanan pulang dari masjid, Zainal bertemu Yuk Mala yang masih bermukena, juga pulang salat jemaah.

“Benar, Yuk, Datuk Leman datangkan pawang lewat kelurahan?” tanya Zainal penasaran.

Yuk Mala tertawa, dilihatnya takada Datuk Leman di dekat mereka. “Manalah! Persis seperti katamu, orang-orang di kantor lurah pada ketawa. Tapi Pak Lurah kita pandai menenangkan orang tua.”

Zainal ikut celingukan, memastikan Datuk Leman tidak di sana. Ia menyejajarkan langkah dengan Yuk Mala, yang lebih cepat gerak kakinya.

“Dia bilang bisa dipertimbangkan, tapi Datuk Leman disuruh berdoa dulu. Alasannya, ide dari warga harus ikut birokrasi, dari lurah ke camat, naik ke wali kota. Dipertimbangkan Pak Wali, baru dicarikan solusinya.” Yuk Mala tertawa lagi. “Padahal Pak Lurah tahu pemerintah sedang usahakan hujan buatan.”

Zainal ikut tertawa mendengar penjelasan Yuk Mala, yang ternyata didapat dari salah satu keponakan Datuk Leman yang bekerja di kelurahan.

“Tapi di kantor lurah Datuk Leman tidak gebrak meja kan walau ditertawakan?” kata Zainal.

“Makanya kau jadi pejabat, minimal PNS-lah, supaya orang tak gampang marah kalau kau salah ketawa.”

Ucapan Yuk Mala disambut tawa lagi oleh Zainal. Kali ini makin menjadi-jadi tawa mereka berdua berpadu.

Keduanya hampir berpisah saat melewati rumah Bujang, tetapi urung karena melihat bujangan itu sibuk menerangi selokan di depan rumahnya, seolah mencari-cari sesuatu.

“Cari batukmu yang hilang, Jang?” canda Yuk Mala.

“Haha. Baguslah hujan ini usir batukku, tapi hilang pula sampah yang kukumpul di selokan ini terbawa air. Padahal rencananya malam mau kubakar.”

Yuk Mala dan Zainal berpandangan.

“Habis asap ini, kebanjiranlah kita!” mata Zainal membelalak. (*)

[1] Istilah Jambi untuk tahu goreng berisi sayuran

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news