MENCARI KUCING

9 hours ago 4

SUDAH tiga batang rokok habis, dan aku masih diam di pos satpam Sukarasa Endah. Biasanya, aku selalu gusar jika yang kutunggu tak kunjung hadir dalam sebatang. Namun sekarang, kuharap Dinda—anakku, tidak datang cepat-cepat. Jujur, aku masih tidak tahu akan mengucapkan apa ketika bertemu dengannya. Kucing-kucing berlarian dari arah jalan raya. Bulu-bulu mereka tak terawat, meski warnanya cukup bagus dan coraknya terlihat anggun. Apa nanti kubicarakan soal itu saja?

Putriku memang menyukai kucing, sama seperti neneknya—ibuku. Dulu ketika masih tinggal bersamaku di kontrakan kumuh belakang jalan Babakan Tiga, dia sering merajuk ingin ke rumah Nenek. Di sana, di antara perkebunan teh, rumah-rumah bilik, serta ayam-ayam peliharaan tetangga, Dinda kecil terbiasa bermain dengan kucing. Ketika ibuku meninggal awal tahun lalu, aku mendapatkan semua hewan tersebut sebagai warisan—bersama rumah, beberapa hektar tanah, dan uang. Karena aku tidak sepenyayang ibuku, maka kuberikan satu per satu kucing itu pada tetangga. Khusus Dinda, kuberikan Loli—kesayangan ibuku, pada saat ulang tahunnya yang ketujuh.

Pada kunjungan bulan lalu, kami telah membicarakan Loli yang melahirkan. Bulan sebelumnya tentang Loli yang hamil. Sebelumnya lagi juga tentang Loli—aku lupa apa yang terjadi pada kucing itu tiga bulan lalu. Bagaimana jika putriku bosan membicarakan kucing? Pada pertemuan terakhir, Dinda hanya membicarakan anak-anak Loli, lalu lebih banyak diam. Saat itu adalah kunjungan paling hening yang pernah kurasakan. Karena aku benci kesunyian antar bapak-anak itu, maka ketika melewati pasar, spontan kujanjikan akan membeli boneka sebesar ukuran tubuhnya. Akhirnya kami pun bisa kembali berbincang.

Nahasnya, kata-kata itulah yang membuatku tak mau dia datang cepat-cepat, karena aku tak bisa memenuhi janji tersebut. Dia anak pintar. Dia pasti ingat. Dia akan menagihnya sekarang. Maka aku harus mencari alasan. Kurasa lebih sulit berdusta pada anak kecil. Mereka terlalu polos sehingga membuatku merasa makin berdosa. Apalagi mengibuli putriku sendiri. Rasanya lebih bersalah daripada perselingkuhan yang sering kulakukan pada ibunya dulu. Namun, aku memang harus berbohong. Uang seratus ribu yang kupinjam dari Ndut, kawan minumku, takkan cukup untuk boneka. Aku sebenarnya tak tahu harganya tapi kurasa di atas lima puluh ribu, bensin—yang lagi-lagi naik, dan rokok. Sayangnya, sampai saat ini, ketika aku menyalakan batang keempat, aku masih belum menemukan dalih yang tepat.

Kang, maaf, tapi Ibu Delia belum nge-WA buat jemput Neng Dinda,” ujar Aep, satpam kompleks yang dipercaya oleh mantan istriku untuk mengantar Dinda ke mana pun, termasuk ke pos satpam untuk menemui ayahnya. Delia memang tak mengizinkanku menjemput anakku sendiri di depan rumah. Alasannya sederhana: Terakhir aku ke sana, sekitar tiga bulan lalu, kepalanku mendarat ke wajah Yusup—suami baru Delia. Saat itu, aku sedang naik pitam karena nomor togel yang kupasang tak keluar, dan ketika melihat wajah jelek Yusup, aku semakin kesal. Karena terpengaruh alkohol, aku jadi tak ingat berapa hantaman yang kulontarkan padanya.

“Santai,” jawabku.

Aep hanya tersenyum lalu mendatarkan ponsel, sepertinya bersiap untuk bermain gim. “Baru juga diomongin,” ujarnya seraya menegakkan kembali ponselnya. “Kang, saya jemput dulu Neng Dinda, ya.”

Sebelum aku sempat melarang, satpam itu telah pergi.

Maka aku pun bersiap-siap: memanaskan motor, menyimpan helm di jok agar mudah dipakai—meski di Ciwidey tak ada polisi yang akan memberikan tilang jika tak pakai helm, tapi bersama Dinda, aku selalu mengutamakan keselamatan. Aku pun duduk di depan pos sambil merokok. Seketika terbayang wajah mungil anakku, pipinya yang merah, rambutnya yang lurus panjang. Aku jadi tak terlalu pusing memikirkan mau bicara apa nanti. Aku hanya ingin bertemu dengannya.

Ketika puntung keempat sudah kuinjak, datanglah Aep dan Dinda. Aku langsung bangkit, tersenyum, dan menghampirinya. “Halo,” ujarku sambil mengangkatnya turun dari motor Aep. Dinda tidak tersenyum. “Kenapa cemberut?” tanyaku.

Putriku yang sudah tak lagi duduk di jok motor, hanya menggelengkan kepala. Di matanya, ada genangan air. Sontak aku langsung menatap Aep. “Tidak tahu, Kang. Dari keluar rumah juga udah begitu,” ujarnya. Aep pun berdiri di dekat pintu pos satpam. Aku berjongkok agar pandanganku setara dengan mata Dinda.

“Kenapa, anaknya Papah?”

Dinda masih menggeleng.

“Karena Papah gak bawain boneka? Sekarang kita ….”

“Bukan!”

“Terus kenapa, dong?”

Putriku diam sejenak lalu menatap mataku. “Anak-anak Loli dibuang!”

“Dibuang sama siapa?”

Dinda menunjuk ke arah pos satpam. Aku menatap ke arah sana.

“Bukan, Kang. Saya mah tidak tahu apa-apa,” ujar Aep.

Aku arahkan lagi pandanganku pada Dinda, “Kata siapa dibuang sama Mang Aep?”

“Kata Baba.” Baba adalah panggilan putriku pada Yusup. Sebelumnya ia dipanggil ‘ayah baru’. Aku tidak suka hal itu dan kumarahi anakku. Jika ia adalah ayah baru, lalu aku ayah lama? Ada kesan lebih maju, lebih canggih, dan lebih bisa diandalkan dalam kata ‘baru’. Sedangkan yang lama, seringnya dibuang.

“Yusup bohong. Mana mungkin Mang Aep begitu.” Ia pasti berbohong. Ialah yang membuang anak-anak kucing itu dan menyalahkan Aep. Aku senang memiliki alasan untuk menjotos kepalanya lagi. “Tapi Loli masih ada, kan?”

“Masih.”

“Ya, gak apa-apa. Jangan sedih. Kan masih ada Loli.”

“Gak mau! Pengen banyak kucing.”

“Kita beli aja gimana?” Sial, aku kan tidak ada uang!

Dinda menggeleng. Syukurlah.

Aku diam sebentar. “Bagaimana kalau kita cari?”

“Kita cari anak-anak Loli?” Raut wajahnya perlahan berubah.

“Iya. Papah dan Dinda akan cari anak-anak Loli hari ini. Gimana?”

“Dinda dan Papah bakal cari anak-anak Loli?” Wajahnya benar-benar telah bersinar. Aku mengangguk. “Ayo!” katanya sambil membawa helm kecil miliknya yang dari tadi sudah menunggu di jok motorku.

***

YANG pertama kulakukan dalam pencarian kucing ini adalah mengunjungi kawan semasa SMA dulu. Namanya Iyan. Sekarang ia membuka fotokopian di dekat SMPN 1 Ciwidey, Sesampainya di sana, aku dan putriku duduk di kursi besi panjang yang ada di depan. Aku membuka ponsel. Seingatku, Dinda pernah mengirimkan foto anak-anak kucing itu padaku lewat WA Delia. “Yang dibuang yang mana?” tanyaku sambil menunjukkan foto-foto itu.

“Tiga-tiganya.”

“Nanti kita cari semuanya! Sekarang Dinda pilih dulu satu kucing satu foto, ya? Yang paling bagus! Papah mau ke temen Papah dulu.”

Aku pun masuk dan menyapa Iyan, lalu sedikit basa-basi soal keluarga, tentang kelicikan pemilu kemarin—kebetulan Iyan cukup melek politik, serta hal-hal lain yang kurang penting. Baru setelahnyalah, kuceritakan sedikit-banyak alasanku datang. “Bantuin ya, Yan? Seratus lembar aja,”

Dari gelagatnya, kurasa Iyan mengerti dan mau membantu. Lelaki itu menatap anakku yang sedang memilah-milah foto. “Paling bayar fotokopiannya aja. Desain dan print gak usah. Jadi seratus kali lima ratus, lima puluh ribu.”

“Yan, aku ngutang dulu, ya?” Iyan masih menatap Dinda.

“Setengah harga, deh.”

“Lagi gak ada, Yan. Gak perlu setengah harga. Ngutang ini mah. Kapan coba aku gak bayar?” Sebenarnya sering. Sejak SMA, Iyan memang langganan kupalak untuk keperluan merokok. Namun, jika aku tak memberikan pertanyaan retoris seperti itu, kurasa ia takkan benar-benar menolong.

Setelah mengembuskan napas yang cukup berat, Iyan akhirnya berkata, “Oke, tapi janji bayar, ya?”

“Makasih, Yan!” ujarku sambil keluar dan mengajak putriku masuk. “Foto-foto kucingnya ada di hape ini. Buat nama, ciri fisik kucing dan gimana-gimana si selebarannya mah, tanya aja ke anakku, ya?” Lalu aku menatap Dinda, “Nanti dibantu sama Om Iyan. Dia bisa bikin anak-anak Loli cepat ketemu!”

“Okidoki, Pah.” Lalu anak perempuanku itu mendekati Iyan.

“Siapa namanya?” tanya Iyan dengan suara yang dimanis-manis.

“Dinda.”

“Nama panjangnya?”

Mendengar mereka bercengkerama dan melihat Iyan sudah membuka Corel di komputernya, aku pun keluar. Kunyalakan rokok dan kunikmati semilir angin. Tenang sekali. Kubayangkan akan menghabiskan seharian ini dengan putriku. Menjalani waktu dengan mendengar suara tawanya, celoteh ceritanya, bahkan mungkin tangisnya adalah hal langka yang membuatku bahagia. Kalau boleh sedikit melebih-lebihkan, rasanya aku selalu mendambakan jadwal bertemu kami. Meski hari-hari biasaku—yang diisi dengan merokok, minum arak, bermain slot, dan nongkrong bersama kawan—terbilang menyenangkan, tapi tak ada yang bisa mengalahkan hari bersama anakku.

Tiba-tiba saja perasaan tenangku barusan terganggu oleh pikiranku tentang Yusup. Berani sekali ia membuang anak-anak kucing itu? Apa ia tidak tahu bahwa Loli adalah pemberianku dan merupakan kucing kesayangan neneknya Dinda? Lagi pula kenapa ia harus membuang anak-anak kucing itu? Apa sih repotnya mengurus anak kucing? Paling menyebalkan juga mereka buang air sembarangan. Ia kan kaya. Ia pasti bisa menyewa pembantu untuk mengurus semua itu. Lagi pula Delia juga menganggur. Apa perempuan itu tidak bisa merapikan tinja-tinja kucing?

“Pah, lagi liatin apa?” tanya Dinda yang membuyarkan khayalanku. Suaranya yang lucu membuatku tak lagi ingin menonjok wajah ibunya dan ayah tirinya.

“Tidak liat apa-apa, kok. Gimana udah selesai?”

“Udah. Nih!” Putriku pun memberikan selembar kertas bergambarkan tiga anak kucing. Di sana juga tertulis: dicari anak-anak kucing: a. Lion, ciri-ciri: lucu. b. Ciro, ciri-ciri: lucu. c. Ibel, ciri-ciri: kurang lucu. Terakhir terlihat di Perumahan Sukarasa Endah, blok D (dibuang oleh yang punya rumah). Jika menemukan akan ada hadiah. “Sisanya lagi difotokopi dulu kata Om Iyan. Fotokopi itu apa, sih, Pah?”

“Diperbanyak.” Aku pun membaca bagian bawah selebaran itu. Tertera nomor WA-ku di sana. Sebenarnya aku tak sepakat nomorku dijajakan begitu saja. Takut nanti debt-collector membaca selebaran ini dan mengetahui cara menghubungiku. Namun mendengar sisanya sedang difotokopi membuatku tak tega untuk merevisi.

“Pah, gang itu jalan ke rumah kita dulu, kan?”

Aku melihat jalan yang ditunjukkan oleh anak perempuanku, dan baru sadar ternyata itu memang jalan ke kontrakanku dulu. “Iya. Memangnya Dinda masih ingat?”

“Ingat, dong.” Aku melihat wajah Dinda yang seolah menerawang masa lalunya yang masih begitu pendek di ingatan. “Seru sekali dulu waktu rumah di sana. Ada Mamah dan Papah bareng-bareng.”

“Memang rumah yang sekarang tidak seru?”

“Seru juga, tapi seruan dulu.”

“Dinda mau ke sana?”

“Ke mana?”

“Ke rumah kita yang dulu? Sekalian nyari Lion, Ciro, sama Ibel.”

“Ayo!” ujarnya sambil berlari ke arah gang.

Aku tersenyum menatap tingkah lakunya. Lalu kuucapkan, “Tunggu dulu, kan masih difotokopi.”

“Oh iya.”

“Beres fotokopiannya,” suara Iyan terdengar dari dalam. Sontak kami langsung berjalan ke sana. “Dibonusin sama selotip, nih. Gratis,” sambungnya ketika aku berdiri dekat etalase. Iyan melihat ke arah Dinda. “Semoga kucingnya cepet ketemu, ya!”

“Okidoki, Om!”

“Makasih ya, Yan.” Sungguh aku begitu terharu dengan tingkah laku kawan SMA-ku ini. Menyesal rasanya aku memalaknya dulu. Dalam hati aku langsung berdoa: semoga usahanya terus lancar.

Suara azan berkumandang. Aku yang masih tersentuh oleh Iyan tiba-tiba tertawa ketika mendengar Dinda bertanya, “Pah, kita jangan salat aja, ya? Langsung nyari kucing gimana?”

Selesai tertawa, aku menjawab, “Tak boleh. Kita harus selalu salat.” Kulihat Iyan masih tertawa. Mungkin sekarang menertawakanku yang terdengar sangat bijak. Sejatinya, aku pun ingin tertawa, karena aku bahkan tak ingat kapan terakhir aku ibadah.

***

TERNYATA mencari anak kucing tak segampang yang kukira. Awalnya, kupikir pekerjaan ini akan mudah, paling lama pun dua jam. Namun, ini sudah menuju jam lima sore dan belum ada tanda-tanda ketiga anak Loli itu akan ditemukan, juga belum ada tanda-tanda putriku akan menyerah. Dinda masih saja terlihat bersemangat meski keringat telah mengucur di seluruh tubuhnya.

Sejak keluar dari fotokopian Iyan, kami pun salat di masjid dekat kontrakanku dulu. Jalanan kecil itu telah berubah sejak terakhir kutinggalkan. Selokannya semakin keruh, sawah-sawah juga perlahan berubah jadi bangunan. Masjid kecil itu masih tetap bau pesing. Aku salat sebagai imam dan Dinda—tanpa mukena, berada di belakang. Setelah itu, kami menengok mantan kontrakan.

Di sana, putriku terus menerus bercerita tentang bagaimana kami dahulu. Sarapan, bermain ke taman, malam hari berebut selimut, berangkat ke sekolah diantar orang tua, jajan ke warung sebelah masjid, dan banyak lagi. Kurasa dia merindukan masa-masa itu. Sambil mendengarkan ceritanya dan berjalan ke arah motor, aku sedikit merasa bersalah. Mungkin jika aku lebih benar sedikit saja, anakku takkan mendapatkan orang tua yang bercerai.

Setibanya di depan motor, kami langsung pergi kembali ke pos satpam. Putriku awalnya heran, tapi kujelaskan secara perlahan bahwa kemungkinan besar anak-anak kucing itu masih ada di sekitar sini. Toh, langkah-langkah kucing kan begitu kecil. Jadi akan dekat-dekat saja. Anakku membantah, bagaimana jika dibuangnya jauh? Ke Afrika? Aku hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaannya yang memang cukup susah itu.

Alasan sebenarnya aku kembali ke pos satpam dan hanya mencari di sekitaran kompleks karena tak perlu menghabiskan bensin. Namun, aku tak berani bicara jujur begitu. Satu, karena kurasa Dinda takkan mengerti soal kenaikan bensin. Dua, karena kurasa dia juga takkan mengerti soal kondisi keuangan ayah kandungnya. Tiga, karena aku tak mau kelihatan miskin di mata anakku.

“Ayo, Pah. Jangan kebanyakan merokok. Keburu magrib!” keluhnya melihatku yang bersandar sambil merokok di halaman parkiran masjid. Padahal aku baru menyalakan rokok. Setelah berkeliling kompleks tiga kali, dan kampung-kampung terdekat dua kali, aku memutuskan untuk istirahat di masjid perumahan dengan alasan asar yang tertinggal. Setelah salat, kurasa ada baiknya merokok sekejap, tapi sepertinya putriku benar-benar bersemangat untuk mencari kucing-kucing itu.

“Istirahat dulu sebentar. Dinda tidak cape?”

Dia menggeleng “Benar kata Mamah, Papah itu lemah”

Perkataannya cukup menyakitkan sehingga aku pun langsung berdiri. “Ayo kita cari lagi! Papah tidak lemah, kok.” Namun seketika suara perut anakku terdengar. “Nah, siapa yang lemah?” ujarku menggoda.

Putriku hanya cemberut manja.

“Dinda lapar?”

Dia menggeleng.

“Sebenarnya Papah bawa bekal, loh. Masakan Papah sendiri.” Sungguh aku pun baru ingat bahwa aku membawa makanan. Niatnya bekal ini akan dimakan untuk makan siang sekitar jam satu atau dua. Namun apa daya, ternyata aku lupa waktu. Tak kusangka mencari kucing begini bisa sangat mengasyikkan.

Dinda masih saja pura-pura cemberut. Aku pun membuka tasku dan membawa tempat makan yang berisi nasi, telur dadar, dan mi goreng instan yang sudah menjadi kotak karena terlalu lama di sana. Sebenarnya, aku tidak bernafsu makan melihat bekalku sendiri. Namun, aku harus terlihat senang dengan ini agar anakku pun mau makan.

“Dinda lapar tidak?” tanyaku menggoda.

Akhirnya dia mengangguk. “Mau disuapi,” pintanya.

“Oke. Asalkan jangan terus cemberut begitu. Anak Papah harus senyum.” Putriku itu akhirnya tersenyum.

Kami pun duduk di pelataran masjid. Aku menyuapinya pelan-pelan. Wajahnya begitu lucu ketika mengunyah. Kapan terakhir aku menyuapi anakku sendiri?

“Oh, ya, hari ini bagaimana? Seru?” tanyaku.

“Kata Mamah tidak baik bicara sambil makan.”

“Memang tidak baik, tapi kan ada pengecualian.” Aku tahu apa yang Delia ajarkan memang benar. Namun, Delia selalu melihatnya makan setiap hari, dan juga bisa mendengar ceritanya setiap hari. Bayangkan jika ia hanya bisa melakukan itu sebulan sekali sepertiku?

“Kalau makan sambil bicara di masjid jadi baik?” tanya putriku polos.

“Yup,” jawabku agar cepat. “Jadi bagaimana? Seru tidak?” tanyaku lagi.

“Seru banget!” jawabnya sambil tangannya ke atas, seolah-olah memperagakan sesuatu yang besar.

“Apanya yang seru?”

“Jalan-jalan keliling sama Papah. Cari-cari kucing. Lihat Papah masuk selokan. Terus, tanya ke tiap ibu-ibu yang lewat. Tempel-tempel kertas. Kadang Papah sengaja tempel buat halangin kertas sedot WC ….” Dan Dinda pun bercerita semuanya. Aku mendengar dengan sesekali menyuapinya makan. Aku baru sadar bahwa banyak hal yang baru kulakukan dengan putriku. “…. Padahal tadi udah ketemu banyak kucing, loh, Pah. Ketemu lima puluh dua. Tapi sedih, gak nemu Lion, Ciro, sama Ibel,” sambungnya.

“Kamu itungin satu-satu?”

“Iya, dong. Aku kan sayang kucing!”

“Kalau ke Papah, sayang?”

“Sayang banget!” Mendengar jawaban itu, air mataku mendadak akan meleleh.

Putriku menatap lekat mataku yang berair. Dia terlihat kebingungan sekali karena melihatku nyaris menangis. Untunglah masjid langsung menyajikan puji-pujian yang membuat anakku itu langsung kecewa, “Yah, Magrib.”

“Yah, Dindanya harus pulang, deh. Ayo ini suapan terakhir!” Dengan lahap dia langsung menyantapnya.

Kami pun berdiri. Aku kembali memasukkan tempat makan ke tasku. Kunjunganku memang harus berakhir sebelum malam. Jadi aku memang harus mengembalikan anakku ke pos satpam sebelum azan. “Ayo, kita kembali ke pos satpam.”

“Pengen digendong!”

***

DARI belakang tubuh, kurasakan tangan mungil memelukku erat dalam gendongan. Kakinya yang kecil berayun-ayun. Tubuhnya cukup berat. Anakku sepertinya hidup sehat di rumah barunya. Kutatap bangunan demi bangunan yang kulewati—rumah-rumah yang memperlihatkan kebahagiaan bagi keluarga di dalamnya. Jika tidak salah, rumah Delia pun senada dengan ini.

Angin sepoi sore hari dan matahari terbenam yang kebetulan berada di depanku. Daun-daun jatuh. Aku merasa tak tahu harus mengucapkan apa. Setelah hari ini, aku akan bertemu dengannya sebulan lagi. Lalu sebulan lagi. Dan lagi. Lagi. Seterusnya. Kucing-kucing berlarian ke arah kami. Sepertinya mereka adalah kucing yang tadi kulihat ketika pertama kali datang ke sini.

“Pah, gimana ya kalau anak-anak Loli tidak ketemu?” suara putriku begitu lunglai, sepertinya dia sangat ingin berjumpa anak-anak kucing itu, sehingga kucing yang menghampiri kami pun tak digubrisnya.

“Pasti ketemu, dong,” hiburku dengan nada ceria yang dibuat-buat. Sejatinya aku berharap tak ada yang menemukan kucing itu agar kami bisa mencarinya lagi bulan depan.

“Kalau tidak?” nadanya semakin sedih saja. Kucing-kucing jalanan mengikuti kami sambil mengeong.

“Pasti ketemu!” Aku masih memakai nada yang sama. Sebenarnya, aku pun sedih. Meski mungkin kesedihan yang berbeda. “Di kertas tadi, kan ada nomor Papah, jadi kalau ada yang tahu di mana mereka, bakal WA Papah. Kalau tetap tidak ketemu, kita cari lagi saja bulan depan”

Putriku diam. Dari belakang telinga, bisa kudengar dia menghela napas yang begitu lucu. Seolah-olah telah dewasa dan mencoba merelakan sesuatu. Kemudian setelah beberapa langkah, dia pun menjawab, “Okidoki!”

Aku tak tahu harus menjawab apa lagi. Kucing-kucing masih mengikuti kami sambil mengeong. Daun-daun masih berguguran. Rumah-rumah di pinggir masih pula terlihat bahagia. Aku hanya berjalan dan melihat pos satpam tinggal beberapa meter lagi. Semakin dekat aku berjalan, semakin jauh rasanya aku dengan anakku.[*]

JEIN OKTAVIANY, lahir di Ciwidey. Terpilih sebagai Emerging Writer pada Ubud Writers & Readers Festival, 2026. Aktif di komunitas Kawah Sastra Ciwidey, Prosatujuh, dan Sebelum Huruf A. Buku kumpulan cerpen perdananya berjudul “Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?” (Langgam Pustaka, 2025).
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news