Kasus Leptospirosis Gunungkidul 2025 Capai 30 Orang, 1 Warga Meninggal

1 day ago 8

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ancaman leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul kembali menjadi perhatian setelah satu warga dilaporkan meninggal dunia sepanjang 2025 akibat penyakit yang berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan tersebut. Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat, hingga awal Februari ini, jumlah warga yang terjangkit mencapai 30 orang.

Data pemantauan Dinas Kesehatan menunjukkan, dinamika penyebaran leptospirosis di wilayah Bumi Handayani cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun. Pada 2022, tercatat sebanyak 34 kasus dengan lima korban meninggal dunia.

Lonjakan signifikan terjadi pada 2023. Dalam periode tersebut, jumlah penderita meningkat menjadi 84 kasus, meski angka kematian tercatat empat orang. Kondisi ini kemudian mengalami penurunan cukup tajam pada 2024, ketika hanya ditemukan 29 kasus leptospirosis di Gunungkidul.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, mengatakan tren kenaikan kembali terjadi pada 2025. Hingga saat ini, jumlah kasus sudah melampaui capaian sepanjang 2024.

“Untuk 2025 ada 30 warga yang terjangkit leptospirosis. Sebanyak 15 orang di antaranya berasal dari Kapanewon Nglipar,” kata Wanda Abrar kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan kasus tahun ini juga dibarengi dengan adanya korban jiwa. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat leptospirosis, sehingga masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi penularan penyakit tersebut.

“Ada satu korban meninggal dunia. Kami meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit yang berkaitan dengan masalah kebersihan lingkungan ini,” ujarnya.

Wanda menegaskan, Dinas Kesehatan Gunungkidul terus berupaya menekan laju penyebaran leptospirosis. Berbagai langkah pencegahan dilakukan, mulai dari kampanye gerakan hidup bersih dan sehat hingga penguatan peran fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kami juga mendorong fasilitas kesehatan di Gunungkidul agar lebih responsif dalam mendiagnosis gejala leptospirosis, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan berkomitmen mendukung upaya deteksi dini dengan penyediaan alat kesehatan yang memadai, guna menekan risiko fatalitas akibat keterlambatan penanganan.

“Kami akan mendukung dengan penyediaan alat deteksi dini, sehingga angka fatalitas bisa dikendalikan karena pasien dapat segera tertangani dengan baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengingatkan bahwa leptospirosis merupakan penyakit yang tidak boleh disepelekan. Jika tidak ditangani secara serius, dampaknya dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

“Serangan penyakit ini bisa berujung pada gagal ginjal hingga memerlukan cuci darah secara rutin. Yang paling fatal, penderita bisa meninggal dunia, sehingga pencegahan menjadi hal utama,” katanya.

Menurut Ismono, pola penyebaran leptospirosis hampir serupa dengan demam berdarah dengue (DBD), karena kasusnya cenderung meningkat pada musim penghujan. Kondisi lingkungan yang lembap memperbesar risiko paparan bakteri penyebab penyakit ini.

Leptospirosis umumnya ditularkan melalui lingkungan yang terkontaminasi air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira. Gejalanya antara lain demam tinggi, tubuh panas, pusing, mata memerah, serta nyeri pada bagian tubuh tertentu, terutama di area luka terbuka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news