Jejak Islam di Gowa, Alquran 400 Tahun Masih Terawat Dalam Museum Balla Lompoa

1 month ago 31

KabarMakassar.com — Di balik dinding tebal bangunan berarsitektur khas kerajaan Gowa di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, tersimpan jejak panjang peradaban Islam di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bukan sekadar benda koleksi, sebuah mushaf Alqur’an kuno berusia lebih dari empat abad berdiri sebagai saksi bisu kejayaan dakwah dan kekuasaan Kerajaan Gowa pada masanya.

Mushaf tersebut kini dirawat di Museum Balla Lompoa, museum yang dikenal menyimpan berbagai pusaka peninggalan raja-raja Gowa. Ukurannya terbilang besar, mencapai 35 x 49 sentimeter. Meski telah melewati ratusan tahun, fisik kitab suci itu masih tampak kokoh. Lembaran kertasnya memang menguning dimakan usia, namun tulisan tangan di atasnya tetap terbaca jelas.

Goresan tinta itu merupakan karya ulama besar Syekh Haji Akhmad Umar bin Haji Abdul Hayyi, yang penulisannya dipelopori Syekh Abdullah Asufi sekitar tahun 1625, pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin. Setiap baris ditulis manual dengan ketelitian tinggi, menghadirkan keindahan kaligrafi yang masih tampak meski mulai memudar.
Lebih dari sekadar kitab suci, mushaf ini diyakini sebagai simbol identitas Islam Kerajaan Gowa.

Berdasarkan penelusuran sejarah, penulisannya disebut dilakukan di Kota Makkah sebelum kemudian dibawa ke Nusantara dan menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwah di wilayah timur Indonesia.

Kurator Museum Balla Lompoa, Andi Jufri Tenribali, menjelaskan bahwa keberadaan mushaf tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses Islamisasi Kerajaan Gowa yang dimulai pada awal abad ke-17.

“Islam resmi dianut Kerajaan Gowa tahun 1605. Penyebarannya erat kaitannya dengan kedatangan tiga ulama besar dari Sumatera Barat, yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam tradisi kerajaan Islam, mushaf Alqur’an merupakan elemen penting yang harus dimiliki sebagai simbol legitimasi keagamaan sekaligus sarana dakwah.

“Setiap kerajaan Islam harus memiliki mushaf Alqur’an. Meski kita belum tahu pasti kapan mushaf ini tiba di Gowa, Islam berkembang pesat sejak Raja Tallo ke-6, Karaeng Loe ri Sero, memeluk Islam dan mengajak Sultan Alauddin I, Raja Gowa ke-14, untuk ikut masuk Islam,” jelasnya.

Sejak saat itu, Islam berakar kuat di tanah Gowa. Mushaf-mushaf Alqur’an digunakan dalam pengajaran agama, dakwah, hingga penyebaran ilmu ke berbagai wilayah taklukan. Hingga kini, sejumlah Alqur’an kuno lain diyakini masih tersebar di bekas wilayah kekuasaan Gowa, meski belum seluruhnya terdokumentasi.

Di balik ketahanannya selama empat abad, mushaf ini menyimpan misteri yang masih diteliti para ahli, terutama terkait bahan tinta dan media tulis yang digunakan.

Menurut Andi Jufri, terdapat dugaan tinta mushaf dibuat dari bahan alami.

“Ada yang menduga tintanya berasal dari biji mangga yang dihaluskan, lalu dicampur tanah liat dan air supaya meresap ke kertas. Tapi ini masih terus diteliti,” ungkapnya.

Penelitian tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama dan Perpustakaan Nasional.
“Kami bekerja sama untuk mengungkap komposisi bahan aslinya, supaya metode konservasinya juga tepat,” tambahnya.

Proses penulisannya sendiri menggunakan kalam, alat tulis tradisional dari tulang daun lontar. Metode ini menuntut ketelitian luar biasa.

“Bayangkan, semuanya ditulis manual. Kalau ada satu kesalahan saja, harus diulang dari awal. Karena itu penulisan 30 juz bisa memakan waktu bertahun-tahun,” tuturnya.

Catatan sejarah museum menyebut mushaf ini diwariskan secara turun-temurun oleh raja-raja Gowa. Salah satu tokoh yang turut menjaganya adalah Raja Gowa ke-32, Kumala Barani Karaeng Maparang Sultan Muhammad Abdul Kadir.
Mushaf tersebut juga dikaitkan dengan Syekh Ahmad Umar, ulama yang lama bermukim di Makkah sebelum kembali menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan sekitar abad ke-19.

Selain mushaf utama, terdapat pula mushaf berukuran lebih kecil yang diperkirakan ditulis ulama Bugis, Syekh Zainal Abidin. Saat ini, naskah tersebut tengah menjalani proses konservasi di pusat kepustakaan di Jakarta.

“Ada satu mushaf kecil yang sekarang dirawat di perpustakaan pusat untuk dikonservasi,” kata Andi Jufri.

Merawat kitab berusia ratusan tahun tentu bukan perkara mudah. Faktor kelembapan udara, suhu, hingga paparan cahaya dapat mempercepat kerusakan kertas dan tinta.

Karena itu, museum menerapkan perawatan khusus, termasuk pengaturan sirkulasi udara di ruang penyimpanan. “Kami rutin membuka lemari penyimpanan agar sirkulasi udara terjaga. Perawatannya juga mengikuti panduan para ahli, karena benda pusaka seperti ini tidak bisa sembarangan disentuh,” jelasnya.

Selain menjaga fisik, museum juga berupaya mempertahankan nilai sakral mushaf sebagai warisan keagamaan, bukan sekadar artefak sejarah.
Harapan Penelusuran Mushaf Lain

Ke depan, pihak museum berharap dapat melakukan penelusuran ke wilayah-wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Gowa. Langkah itu dilakukan untuk menemukan kemungkinan adanya mushaf kuno lain yang masih disimpan masyarakat.

“Dulu kitab suci sangat dihormati, tidak boleh dipindahkan sembarangan. Bisa jadi masih ada yang tersimpan di rumah-rumah warga. Kami ingin memastikan semuanya bisa dirawat dengan baik,” tukas Andi Jufri.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news