Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan. Teheran secara tegas menolak melanjutkan negosiasi jika masih berada di bawah tekanan dan ancaman militer dari Washington.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada pendekatan koersif. Ia mengkritik keras langkah Presiden AS Donald Trump yang dinilai menggunakan tekanan militer dan blokade sebagai alat negosiasi.
Menurut Ghalibaf, strategi tersebut justru berpotensi mengubah jalur diplomasi menjadi “meja penyerahan diri” dan membuka kembali konflik bersenjata. Ia juga mengungkapkan bahwa Iran telah menyiapkan berbagai opsi, termasuk langkah militer, jika situasi terus memburuk setelah masa gencatan senjata berakhir.
Situasi semakin kompleks setelah AS mempertahankan blokade terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Teheran menilai langkah ini sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak.
Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa delegasi AS akan kembali melakukan perundingan lanjutan di Islamabad. Namun, Iran belum memberikan kepastian untuk berpartisipasi dan tetap menuntut pencabutan blokade sebagai syarat utama dialog.
Ketegangan juga berdampak pada stabilitas jalur pelayaran global, terutama di Selat Hormuz. Setelah sempat dibuka, Iran kembali membatasi pergerakan kapal di jalur tersebut dengan alasan AS belum memenuhi kewajibannya. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Ancaman semakin meningkat setelah Trump memperingatkan kemungkinan serangan besar jika Iran tidak menyetujui syarat yang diajukan Washington. Pernyataan keras tersebut memperbesar risiko eskalasi konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, konflik antara kedua negara telah memanas sejak serangan militer yang terjadi pada akhir Februari, yang melibatkan target di Teheran dan dibalas dengan serangan ke fasilitas militer AS serta sekutunya di kawasan. Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata pada awal April, namun perundingan tahap pertama berakhir tanpa kesepakatan signifikan.
Kini, dunia internasional menaruh perhatian besar terhadap perkembangan situasi ini. Jika negosiasi kembali gagal dan gencatan senjata tidak diperpanjang, konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi meluas dan berdampak pada stabilitas global, terutama di sektor energi dan keamanan kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

4 hours ago
7

















































