Foto sekuen fase gerhana bulan total terlihat di Padang, Sumatra Barat, Rabu (31/1). - Antara/ Iggoy el Fitra
Harianjogja.com, JOGJA— Baru-baru ini media sosial ramai dengan klaim yang menyebutkan bahwa Bumi akan mengalami gelap total selama enam menit pada 2 Agustus 2027 mendatang. Narasi tersebut bahkan menambahkan bahwa fenomena serupa tidak akan terulang kembali dalam kurun waktu 100 tahun. Namun, secara tinjauan ilmiah, kabar yang meresahkan tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Fenomena yang sebenarnya akan terjadi adalah gerhana Matahari total yang dijuluki sebagai "Gerhana Abad Ini". Pada 2 Agustus 2027, posisi Bulan akan menutupi Matahari sepenuhnya dengan durasi puncak mencapai 6 menit 22 detik. Catatan waktu ini menjadikannya periode totalitas terlama di daratan sepanjang abad ke-21.
Sebagai perbandingan, gerhana Matahari total pada 8 April 2024 lalu yang melintasi wilayah Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada hanya berlangsung maksimal selama 4 menit 28 detik. Meski durasi tahun 2024 sudah tergolong panjang, tetap saja lebih singkat dibandingkan fenomena yang diprediksi terjadi pada 2027.
Hanya Melintasi Jalur Tertentu Penting untuk dipahami bahwa secara ilmiah, kegelapan yang terjadi saat gerhana Matahari total bukan berarti seluruh permukaan Bumi akan menjadi gelap. Area yang mengalami kegelapan total hanya berada di jalur sempit tertentu.
Pada 2 Agustus 2027, jalur totalitas tersebut diperkirakan memiliki lebar sekitar 258 kilometer dan membentang lebih dari 15.000 kilometer di atas permukaan Bumi. Dikutip dari Space, jalur ini mencakup 11 negara utama yang sebagian besar berada di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.
Wilayah yang beruntung masuk dalam jalur kegelapan total antara lain:
Eropa & Afrika: Spanyol, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, dan Sudan.
Timur Tengah: Arab Saudi, Yaman, hingga Somalia.
Sementara itu, sebagian besar wilayah lain di Afrika, Eropa, dan Asia Selatan hanya akan menyaksikan gerhana sebagian.
Kondisi Cahaya dan Keunikan Fenomena Meskipun sering disebut "gelap total", suasana yang terjadi sebenarnya lebih menyerupai kondisi senja yang merata dari segala arah. Hal ini disebabkan oleh atmosfer Bumi yang masih membiaskan sisa cahaya Matahari dari luar jalur totalitas, sehingga langit tidak akan berubah menjadi hitam pekat layaknya malam hari.
Gerhana 2027 dianggap sangat spesial karena posisi Bulan berada relatif dekat dengan Bumi. Kondisi tersebut membuat piringan Bulan tampak lebih besar secara visual, sehingga mampu menutupi piringan Matahari dalam durasi yang jauh lebih lama dibandingkan gerhana pada umumnya.
Fenomena luar biasa ini tercatat sebagai yang terlama sejak kejadian tahun 1991 dan secara statistik baru akan terulang kembali pada 16 Juli 2114. Oleh karena itu, bagi masyarakat di wilayah yang terlintas, ini akan menjadi momen sekali seumur hidup yang sangat berharga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
9

















































