Hari Kasih Sayang, YGC-AHF Luncurkan Girls Act untuk Edukasi Seksualitas Remaja

22 hours ago 4
Hari Kasih Sayang, YGC-AHF Luncurkan Girls Act untuk Edukasi Seksualitas RemajaMomentum Hari Kasih Sayang, Yayasan Gaya Celebes (YGC) Makassar resmi menggelar Kick Off Program Girls Act – Berdayakan Perempuan Ubah Dunia, (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Bertepatan dengan momentum Hari Kasih Sayang, Yayasan Gaya Celebes (YGC) Makassar resmi menggelar Kick Off Program Girls Act – Berdayakan Perempuan Ubah Dunia, Jumat (13/02).

Program ini merupakan kolaborasi YGC bersama AHF Indonesia dan Kementerian Sosial RI yang menitikberatkan pada perlindungan remaja putri dari risiko HIV, IMS, serta kekerasan berbasis gender.

Direktur YGC, Andi Akbar, menegaskan bahwa lahirnya program Girls Act dilatarbelakangi tingginya kerentanan perempuan dan anak dalam berbagai aspek kehidupan sosial.

“Perlindungan terhadap perempuan dan anak adalah isu utama pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, mereka masih sangat rentan terhadap kekerasan, stigma, diskriminasi, hingga eksploitasi,” jelasnya.

Menurutnya, pemberdayaan melalui edukasi dan penguatan kapasitas menjadi langkah strategis agar perempuan muda mampu memahami hak serta melindungi diri dari berbagai ancaman sosial maupun kesehatan.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DPPPA Kota Makassar, Hamna Faisal, menyebut kondisi kerentanan perempuan muda kian mendesak ditangani.

“Kasus kekerasan berbasis gender meningkat, penyalahgunaan napza juga mengancam, ditambah ketimpangan akses pendidikan dan kesempatan bagi perempuan. Edukasi hak-hak perempuan dan kesehatan reproduksi menjadi sangat penting,” jelasnya.

Ia menyoroti bahwa pelajar dan mahasiswi menghadapi kerentanan berlapis: minim informasi kesehatan reproduksi, stigma, diskriminasi, hingga risiko HIV dan IMS. Ketimpangan akses edukasi juga masih terasa, terutama bagi remaja putri dari keluarga kurang mampu di Makassar.

Data Catatan Tahunan (CATAHU) 2024 Komnas Perempuan turut menguatkan kondisi tersebut. Laporan itu menunjukkan tren kekerasan berbasis gender belum mengalami penurunan signifikan, dengan korban dan pelaku didominasi kelompok pelajar dan mahasiswa. Di ruang publik digital, kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) bahkan menjadi yang paling banyak dilaporkan.

Kondisi ini dinilai beririsan kuat dengan kerentanan HIV pada remaja. Faktor relasi tidak setara, tekanan sosial, serta paparan risiko di ruang daring kerap menghambat akses layanan kesehatan, termasuk tes dan konseling.

Sementara itu, Senior Program Koordinator AHF Indonesia, Lusi Siagan, menjelaskan fokus implementasi Girls Act tahun 2026.

“Prioritas kami menjawab kebutuhan spesifik pelajar dan mahasiswa melalui Pendidikan Seksualitas Komprehensif yang aman, dukungan sebaya, serta rujukan layanan ramah remaja,” katanya.

Ia menambahkan, program juga menekankan kepatuhan pengobatan bagi remaja perempuan yang hidup dengan HIV melalui pendampingan psikososial, literasi kesehatan, serta penguatan jejaring di sekolah, kampus, dan fasilitas layanan kesehatan.

Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Direktur Rumah Mama Sulawesi Selatan, Lusia Palulungan, yang hadir sebagai narasumber dalam sesi capacity building.

“Tujuan Girls Act sangat baik karena meningkatkan kapasitas pelajar dan mahasiswi dalam pencegahan IMS/HIV dan kekerasan berbasis gender, termasuk KBGO,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, anggota Girls Act akan disiapkan menjadi peer educator di sekolah dan kampus, memperkuat kepatuhan pengobatan bagi remaja dengan HIV, serta mendorong keterlibatan laki-laki dan orang tua dalam edukasi kesehatan seksual dan reproduksi.

Melalui kick off ini, kolaborasi multipihak diharapkan mampu membangun ekosistem perlindungan yang lebih kuat, sekaligus mendorong lahirnya generasi perempuan muda yang berdaya, sehat, dan bebas dari kekerasan.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news