Gencatan AS-Iran Belum Pulihkan Pasok Pupuk Global

6 hours ago 7

Gencatan AS-Iran Belum Pulihkan Pasok Pupuk Global Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara - PT Pupuk Indonesia

Harianjogja.com, JAKARTA — Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran belum mampu mengembalikan stabilitas rantai pasok pupuk global. Gangguan logistik serta lonjakan harga diperkirakan masih akan membebani sektor pertanian dalam beberapa waktu ke depan.

Pembukaan kembali Selat Hormuz memang sempat meredakan kepanikan pasar. Namun, distribusi pupuk belum kembali normal lantaran pelaku logistik masih menghadapi risiko tinggi di jalur tersebut.

Distribusi Belum Normal

Analis pupuk global ICIS, Deepika Thapliyal, menilai kondisi pasar belum mengalami perubahan mendasar meski gencatan senjata telah berlangsung.

“Pengiriman masih jauh dari normal. Tidak ada yang tahu berapa banyak bahan pupuk yang akan keluar dari selat. Juga masih belum jelas berapa lama gencatan senjata akan benar-benar bertahan,” ujarnya, dikutip dari Farm Policy News, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, risiko operasional tetap tinggi. Biaya asuransi perang meningkat, sementara operator kapal masih berhati-hati melintasi kawasan tersebut.

“Meskipun selat secara teknis terbuka, kargo mungkin menghadapi penundaan dan peningkatan risiko asuransi perang, sehingga pemulihan penuh perdagangan normal kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan,” jelasnya.

Selain faktor keamanan, penumpukan pengiriman selama konflik juga memperlambat pemulihan distribusi.

Profesor kebijakan pangan City University London, Tim Lang, menyebut distribusi energi dan pupuk tidak bisa langsung kembali normal dalam waktu singkat.

“Tidak tiba-tiba ratusan ribu ton minyak atau urea atau pupuk atau gas cair langsung sampai ke tujuan,” ujarnya.

Harga Pupuk Melonjak Tajam

Di sisi lain, tekanan harga justru semakin meningkat. Harga pupuk eceran melonjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir dengan kenaikan dua digit.

Urea mencatat lonjakan tertinggi hingga 34% dibandingkan bulan sebelumnya, dengan harga rata-rata mencapai US$838 per ton.

Pupuk nitrogen lain seperti UAN28 dan UAN32 masing-masing naik 21%, sementara anhidrat meningkat 18%. Kenaikan juga terjadi pada pupuk fosfat dan kalium seperti DAP, MAP, dan potash, meski lebih moderat.

Kekhawatiran Bergeser ke 2027

Di tingkat petani, ketidakpastian mulai bergeser dari jangka pendek ke menengah. Kekhawatiran tak hanya pada musim tanam 2026, tetapi juga 2027.

Presiden National Corn Growers Association, Jed Bower, mengatakan tekanan harga sebenarnya sudah terjadi sebelum konflik.

“Harga pupuk sudah tinggi bahkan sebelum perang di Iran dimulai. Tekanan tambahan dari penutupan Selat Hormuz hanya memperburuk situasi, terutama saat melihat ke tahun 2027,” ujarnya.

Survei asosiasi menunjukkan jumlah petani yang mengkhawatirkan kondisi 2027 hampir dua kali lipat dibandingkan 2026.

Pelaku pasar menilai, meski sebagian kebutuhan pupuk untuk musim tanam 2026 telah diamankan, risiko keterbatasan pasokan dan harga tinggi masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Kondisi ini berpotensi memengaruhi siklus tanam berikutnya secara global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news