PADANG, KLIKPOSITIF – Sejak gempa bumi 2009 hingga pandemi Covid-19 pada 2019, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat konsisten berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini bukan semata persoalan siklus, melainkan mencerminkan masalah struktural yang belum sepenuhnya tertangani, terutama pasca-bencana alam yang berulang.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram mengatakan, struktur ekonomi Sumatera Barat masih sangat bertumpu pada sektor primer, khususnya pertanian.
“Ketika bencana terjadi, sektor inilah yang paling awal dan paling dalam terdampak. Sawah rusak, jaringan irigasi terganggu, dan musim tanam menjadi tidak pasti. Dampaknya berantai seperti produktivitas menurun, pendapatan petani tertekan, dan penyerapan tenaga kerja melemah,” katanya.
Penelitian menunjukkan pada 2024, Sumbar kembali mengalami bencana galodo. Namun, pemulihan infrastruktur pertanian berjalan lambat. Akibatnya, sektor pertanian memang masih tumbuh, tetapi lebih disebabkan oleh kenaikan harga, bukan peningkatan produksi. Ini menjadi sinyal peringatan, dimana pertumbuhan yang tidak ditopang oleh perbaikan struktural sangat rapuh.
“Tahun 2025, bencana kembali terjadi dan kembali menghantam sektor pertanian. Jika perbaikan infrastruktur, terutama sawah dan irigasi, jika tidak dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, maka musim tanam kedua akan terganggu. Ini berpotensi menjadi masalah serius, bukan hanya bagi petani, tetapi bagi perekonomian daerah secara keseluruhan. Peran Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah menjadi krusial agar keterlambatan infrastruktur tidak memperdalam perlambatan ekonomi,” jelasnya.
Dikatakannya, pertanian sektor yang paling inklusif dan paling besar menyerap tenaga kerja di Sumbar. “Jika Sumbar ingin kembali ke jalur pertumbuhan setara nasional, maka pembenahan sektor utama ini bukan pilihan, melainkan keharusan,” paparnya.
Namun, untuk mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi, Sumatera Barat tidak bisa hanya mengandalkan pertanian. Sumber pertumbuhan lain yang paling cepat dan realistis adalah pariwisata. Potensinya besar dan optimisme patut dijaga, meski tetap harus berpijak pada realitas. Tanpa percepatan sektor ini, jarak pertumbuhan dengan nasional akan semakin melebar.
Di sisi lain, Sumbar bukanlah provinsi dengan basis industri manufaktur besar. Struktur industrinya lebih banyak bersifat pengolahan dari pusat, dengan pasar dan permintaan yang terbatas. Bahkan untuk komoditas unggulan seperti CPO, pengembangan industri harus sangat memperhatikan kejelasan demand. Karena itu, menyebut Sumbar sebagai wilayah industrialisasi penuh tidaklah tepat.
Industri yang paling memungkinkan berkembang adalah industri berbasis pertanian. Namun, hingga kini, sektor pendukung seperti industri pakan, alat pertanian, maupun peternakan masih berskala kecil. Dorongan ke sektor ini pun menghadapi keterbatasan permintaan. Contohnya, pengembangan peternakan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan program tertentu seperti MBG, masih belum cukup kuat untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
“Tantangan ekonomi Sumatera Barat pasca-bencana bersifat struktural dan membutuhkan respons cepat serta realistis. Perbaikan pertanian harus dipercepat, pariwisata harus dikejar dengan strategi yang matang, dan industrialisasi harus disesuaikan dengan karakter dan permintaan pasar. Tanpa itu semua, Sumbar berisiko terus tertinggal dari laju pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

2 days ago
4


















































