Jalur perakitan kendaraan energi baru (NEV) BYD, produsen NEV terkemuka China, di pabrik BYD di Zhengzhou, Provinsi Henan, China, Senin (3/11/2025). ANTARA/Xinhua/Li Jianan - aa.
Harianjogja.com, CHINA— Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, melakukan penyesuaian besar pada struktur bisnisnya dengan mengurangi sekitar 100.000 tenaga kerja sepanjang 2025. Langkah ini diambil di tengah ketatnya persaingan industri kendaraan listrik global.
Jumlah karyawan BYD kini tersisa sekitar 870.000 orang atau turun sekitar 10 persen dibandingkan sebelumnya. Perusahaan menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari restrukturisasi, peningkatan efisiensi operasional, serta pengendalian biaya.
Di sisi lain, kinerja keuangan perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan laporan CarNewsChina, pendapatan BYD pada 2025 mencapai 803,96 miliar yuan atau setara Rp1,9 kuadriliun.
Total pengiriman kendaraan juga menyentuh 4,60 juta unit, dengan ekspor ke luar negeri mencapai 1,05 juta unit. Capaian ini menjadi yang pertama kalinya bagi BYD menembus angka ekspor di atas 1 juta unit.
Meski demikian, laba bersih perusahaan tercatat turun menjadi 32,62 miliar yuan atau sekitar Rp80,3 triliun. Penurunan sebesar 19 persen ini dipicu tekanan harga di pasar kendaraan energi baru domestik serta tingginya investasi di sektor teknologi.
BYD tetap mempertahankan belanja riset dan pengembangan sebesar 63,4 miliar yuan atau sekitar Rp156,3 triliun. Investasi ini difokuskan pada pengembangan teknologi elektrifikasi, sistem baterai, hingga infrastruktur pengisian daya.
Pada 5 Maret 2026, BYD meluncurkan teknologi terbaru, Blade Battery 2.0 yang dilengkapi sistem Flash Charging 2.0. Teknologi ini diklaim mampu mengisi daya dari 10 persen ke 70 persen dalam waktu sekitar lima menit, dan hingga 97 persen dalam sembilan menit dalam kondisi standar.
Langkah inovasi ini berjalan seiring ambisi ekspansi global perusahaan. BYD menargetkan ekspor kendaraan mencapai 1,5 juta unit pada 2026, meningkat sekitar 15 persen dari target sebelumnya.
Fokus pada pasar internasional dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga pertumbuhan di tengah persaingan ketat di pasar domestik.
Sementara itu, penjualan kendaraan energi baru di dalam negeri tercatat turun 41 persen pada Februari 2026. Penurunan ini lebih dipengaruhi faktor musiman terkait libur di China dan terjadi sebelum peluncuran teknologi baterai terbaru.
Kondisi tersebut menunjukkan fluktuasi permintaan jangka pendek, bukan perubahan mendasar dalam tren pasar kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, kinerja BYD pada 2025 mencerminkan kombinasi strategi efisiensi tenaga kerja, pertumbuhan pendapatan, serta investasi berkelanjutan di sektor teknologi.
Posisinya yang kini masuk dalam jajaran 10 besar produsen otomotif global memperlihatkan upaya simultan perusahaan dalam menekan biaya sekaligus memperluas pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

9 hours ago
5
















































