Harianjogja.com, JOGJA — Setiap tahun menjelang Paskah, rak-rak toko selalu dipenuhi telur berwarna-warni dan cokelat berbentuk telur. Tradisi ini terasa akrab, namun di baliknya tersimpan sejarah panjang yang berakar dari Kekristenan awal, bahkan jauh sebelum Masehi.
Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, telur awalnya dikenal sebagai simbol kesuburan dan pembaruan alam oleh masyarakat Eropa pra-Kristen. Seusai Kekristenan mulai menyebar, para misionaris mengadopsi simbol ini dan memberinya makna teologis baru: kebangkitan Yesus Kristus.
Simbol Makam dan Kebangkitan
Gereja-gereja Kristen awal menggunakan telur sebagai metafora fisik yang spesifik. Cangkang telur yang keras melambangkan makam tertutup tempat jenazah Yesus dibaringkan. Seusai cangkang tersebut dipecahkan, hal itu melambangkan keberhasilan Yesus mengalahkan maut dan bangkit dari kematian.
Selain makna spiritual, terdapat alasan praktis di balik tradisi ini. Pada abad pertengahan, umat dilarang mengonsumsi telur selama Pekan Suci. Karena ayam tetap bertelur setiap hari, jemaat mulai menghias telur-telur tersebut agar tidak tertukar dengan telur biasa. Seusai masa pantang berakhir, telur-telur cantik ini dibagikan sebagai tanda sukacita.
Arti di Balik Warna-warni Telur
Tradisi mewarnai telur bermula dari komunitas Kristen di Mesopotamia. Awalnya, telur hanya diberi warna merah, namun seiring waktu, warna lain mulai digunakan dengan makna simbolis:
- Merah: Melambangkan darah Kristus yang tercurah di kayu salib.
- Kuning: Melambangkan kebangkitan dan kehidupan baru yang cerah.
- Biru: Melambangkan besarnya kasih Allah kepada manusia.
Asal-usul Tradisi Berburu Telur
Tradisi berburu telur (Easter egg hunt) ternyata memiliki akar edukatif. Para misionaris menyembunyikan telur yang dilukis dengan adegan Alkitab agar ditemukan anak-anak. Seusai menemukan telur, anak-anak diminta menceritakan kembali kisah Injil yang tertera di permukaannya.
Pada abad ke-16, Martin Luther juga mempraktikkan hal serupa. Para pria menyembunyikan telur untuk ditemukan oleh perempuan dan anak-anak. Kegembiraan saat menemukan telur dirancang untuk mencerminkan sukacita para perempuan yang mendapati makam Yesus telah kosong pada pagi Paskah pertama.
Seusai berabad-abad berlalu, tradisi telur Paskah kini telah melampaui batas agama dan menjadi ikon global. Perjalanan telur dari simbol kesuburan kuno hingga menjadi media pengajaran iman menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat terus hidup melalui pemaknaan baru di setiap generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

11 hours ago
7

















































