KLIKPOSITIF – Hasil penelitian dosen Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukittinggi mengungkapkan, mayoritas penyandang disabilitas tunarungu di SLB Negeri 1 Bukittinggi memiliki kualitas hidup yang baik.
Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam aspek kesehatan, aktivitas fisik, emosi, pendidikan, pola makan, olahraga, dan lingkungan sosial.
“Penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa sebagian besar anak tunarungu memiliki kehidupan yang relatif baik, tetapi masih ada beberapa yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan pendidikan,” ujar salah seorang peneliti, Ns Rina Mariyana S Kep , M Kep, Senin 9 Februari 2026.
Sementara itu, penelitian kualitatif mengungkapkan bahwa dukungan dari orangtua, guru, dan teman sebaya sangat berperan dalam membantu anak tunarungu menghadapi tantangan mereka, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun emosional.
Penelitian itu sendiri melibatkan 3 orang dosen UFDK Bukittinggi. Selain Rina Mariyana juga ada Muhammad Ridwan dan NS Cory Febrina S.Kep M.Kes.
Menurut Rina, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas hidup anak tunarungu di SLB Negeri 1 Bukittinggi.
Metode penelitian yang digunakan adalah mixed-methods dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90.3% anak memiliki kualitas hidup yang baik, sementara 9.7% mengalami kualitas hidup yang buruk.
Selain itu juga didapatkan data bahwa 33,33% tidak dapat melakukan kegiatan dengan seusia yang bisa dilakukan.
Dari aspek kesehatan dan aktivitas, sebanyak 45.2% anak menunjukkan kondisi buruk.
Dalam aspek emosi dan perasaan, 35.5% anak mengalami ketidakstabilan emosional.
Sementara itu, 41.9% anak mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, dan 51.6% menunjukkan kualitas hidup yang buruk dalam aspekpendidikan.
Selain itu, pola makan dan lingkungan sosial juga menjadi faktor yang
memengaruhi kualitas hidup mereka, dengan masing-masing 51.6% dan 58.1% anak berada dalam kategori buruk.
“Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tema utama terkait kualitas hidup anak tunarungu, baik dari perspektif orang tua maupun guru,” ujar Rina.
Rina menjelaskan, dari sisi orang tua, tema yang muncul meliputi aktivitas sehari-hari, respon emosi maladaptif, perlakuan teman sebaya, kondisi fisik, kesulitan belajar, dan kegiatan keagamaan.
Sementara itu, dari perspektif guru, tema yang teridentifikasi mencakup perkembangan sosial, potensi anak, prestasi akademik, kategori anak tunarungu, serta hambatan dalam pendidikan.
Dari hasil bahwa perkembangan anak tidak sesuai dengan usianya sehingga disarankan untuk guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) dapat menerapkan penelitian mengenai peningkatan kosa kata pada anak tunarungu.

20 hours ago
5


















































