Asratillah: IDSD 4,17 Membanggakan, Bukan Tanda Semua Masalah Selesai

18 hours ago 7

KabarMakassar.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, dan Makassar tampil sebagai daerah dengan skor tertinggi tembus 4,17 dari Sulawesi Selatan (Sulsel), bahkan melampaui rata-rata nasional.

Dengan skor 4,17, Makassar menegaskan posisinya sebagai lokomotif pembangunan dan pusat pertumbuhan di kawasan timur Indonesia.

Direktur Profetik Institute, Muhammad Asratillah, memberikan pandangan kritis sekaligus apresiatif terhadap capaian Kota Makassar dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.

“Saya melihat hasil Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang menempatkan Kota Makassar dengan skor 4,17 sebagai capaian yang patut diapresiasi, dan tentu membanggakan,” ujarnya, Kamis (26/02).

Ia menilai, skor 4,17 yang diraih Makassar merupakan capaian yang patut diapresiasi dan membanggakan.

Angka tersebut bukan hanya lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 3,50, tetapi juga melampaui skor Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di angka 3,71.

“Skor ini bukan hanya lebih tinggi dari rata-rata nasional, tetapi juga melampaui skor Provinsi Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Dikatakan, hasil pengukuran IDSD 2025 tersebut sekaligus menjawab berbagai keraguan terhadap performa pembangunan kota.

Di tengah tantangan perkotaan yang kompleks, Makassar dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperluas ukuran pasar, serta mengakselerasi adopsi teknologi informasi sebagai pendorong utama daya saing daerah.

Capaian ini pun menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Makassar untuk terus memperkuat kualitas pelayanan publik dan memastikan pertumbuhan yang inklusif, agar keunggulan dalam angka indeks benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Lebih lanjut, Asratillah menyebutkan, capaian tersebut mempertegas posisi Makassar sebagai lokomotif ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Kekuatan kota ini, kata dia, terlihat jelas pada aspek ukuran pasar, stabilitas ekonomi, serta adopsi teknologi digital yang sangat tinggi.

Sebagai kota metropolitan, Makassar memiliki konsentrasi aktivitas ekonomi, lembaga pendidikan, layanan keuangan, dan infrastruktur yang jauh lebih lengkap dibandingkan sebagian besar kabupaten/kota di Sulsel.

Tidak mengherankan jika indeks daya saingnya berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional.

Meski demikian, Asratillah mengingatkan agar skor tinggi tersebut dipahami secara proporsional.

Ia menegaskan bahwa indeks daya saing pada dasarnya mengukur kapasitas struktural suatu daerah untuk tumbuh, bukan secara otomatis menggambarkan kualitas hidup warga secara langsung.

“Kota besar hampir selalu memiliki skor lebih tinggi karena ukuran ekonomi dan akses teknologinya lebih kuat. Karena itu, keberhasilan Makassar dalam IDSD tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa semua persoalan kota sudah terselesaikan,” jelasnya.

Ia menuturkan, sejumlah persoalan klasik perkotaan yang tetap harus menjadi perhatian serius. Menurutnya, bagi warga.

Jika ditelaah lebih rinci, Makassar memang unggul pada pilar adopsi teknologi informasi dan ukuran pasar yang bahkan mencapai skor maksimal.

“Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi kota Makassar, bergerak cepat dan aktivitas bisnis cukup dinamis,” tuturnya.

Karena itu, ia menekankan agar Pemerintah Kota Makassar tidak terlena dengan posisi sebagai daerah dengan skor tertinggi di Sulawesi Selatan, meskipun capaian tersebut patut disyukuri.

“Indeks ini seharusnya dibaca sebagai peta jalan. Yang lebih penting dari angka indeks adalah apakah warga merasakan perubahan nyata dalam pelayanan publik,” katnaya.

Dia menambahkan, daya saing daerah yang sesungguhnya bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuan pemerintah menghadirkan kota yang nyaman dan adil bagi seluruh kelompok masyarakat.

Ke depan, Asratillah melihat ada tiga arah perbaikan yang penting bagi Makassar. Pertama, memperkuat infrastruktur dasar perkotaan seperti transportasi, drainase, dan layanan lingkungan yang langsung dirasakan warga.

Kedua, memperbaiki ekosistem usaha agar pelaku UMKM dan startup lebih mudah berkembang, bukan hanya perusahaan besar.

Ketiga, memastikan transformasi digital yang sudah kuat benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, bukan sekadar menjadi simbol modernisasi.

“Jika itu dilakukan, Makassar tidak hanya akan unggul dalam angka indeks, tetapi benar-benar menjadi kota yang daya saingnya terasa dalam kehidupan sehari-hari warganya. Saya yakin di bawah kepemimpinan Bapak Munafri Arifuddin dan Ibu Aliyah hal tersebut bisa diwujudkan,” tukasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news